| | Comments: (0)

Mark of Athena : ending nya bikin ....

Diawali dengan perang yang dicetuskan oleh Leo Valdez kepada bangsa Romawi, dimulailah pertualangan 7 demigod terpilih dalam menjalankan misi untuk menyelamatkan Nico.
Dengan menggunakan Argo II yang telah dirampungkan Leo, mereka berlayar dan terbang dengan kapal itu menuju Roma, melewati laut Meditrania, dikejar oleh bangsa Romawi, bertemu dengan berbagai dewa-dewi, mendapatkan berbagai petunjuk, dan tiidak lupa mendapatkan banyak halangan.

Keikutsertaan Annabeth dalam perjalanan ini adalah karena dia ditugaskan oleh ibunya, Athena (atau Minerva, apalah itu) untuk mengikuti Tanda Athena, dan membalaskan dendam lama Athena.
Diceritakan, sudah banyak anak Athena yang mendapat misi yang sama seperti yang diterima Annabeth, hanya saja tidak pernah ada yang berhasil. Dan menurut kabar apa yang ditemukan Annabeth ini akan membawa perdamaian bagi Bangsa Yunani dan Romawi, yang selama ini tidak akur dan sudah berselisih selama beberapa ratus tahun. Sebenarnya apa yang menunggu Annabeth di Roma? Misi ini mengharuskan Annabeth untuk menjalani nya sendiri, apapun yang terjadi. Bagaimana dengan Percy?

Hal mengherankan lainnya, Percy dan Jason yang notebene adalah anak Zeus dan Poseidon, bisa akur..
Padahal dilihat dari orang tua mereka yang sering brtentangan, sedikit aneh bukan?
Tapi di buku ini kalian akan suka moment dimana mereka menyatukan kekuatan mereka di berbagai situasi, walaupun awalnya mereka sama-sama merasa mereka adalah yang terbaik dan tidak mau mengalah satu sama lain.

Misi mereka untuk menyelamatkan Nico bukan? Dan ya ! Nico di Angelo selamat dari kedua raksasa kembar dan dia telah menemukan Pintu Ajal. Kecerobohan yang dilakukan nya saat mencari Pintu Ajal membuat dia di tangkap oleh Gaea sehingga dia di kurung. Pada saat itulah dia mengetahui bahwa Pintu Ajal terdapat 2 sisi, 1 sisi berada di dunia fana dan 1 sisi nya lagi berada di Tartarus. untuk menutup Pintu Ajal diperlukan kunci ganda, yaitu menutup dari dalam dan luar. Bagaimanakah caranya?
jika ditutup dari Tartarus, berarti harus ada yang terperangkap di dalam? apakah mungkin mereka semua selamat?

Tetapi menurut ku ini hanya perjalanan 6 demigod untuk menyelamatkan Nico, karena Annabeth diceritakan harus mengikuti Tanda Athena. Emank sih dia ikut perjalanan mereka dari awal cuma kan dia terpisah sendiri waktu mereka menyelamatkan Nico. dan lagi dari buku awal, dia tidak ikut misi mereka.
hmm.. penasaran kan?
Nantikan seri ke 4 nya  : The House of HAdes :D

| | Comments: (0)

Prolog City of Lost Souls


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMpWpoOSlvPNQ_UVymchHbNOfiOjAg8jLPwYHCRjyj5A71oXexqik4x2yOewtjAdx3Hia2ieMsrNm9FezFt-xhgTCeAD2bNytkb65-Fc8qWqZ8ipQMYSw6WC0OmN9TCHsrkGYqiA4Ms9fl/s320/reflection_image_105786.png


Simon berdiri memandangi pintu depan rumahnya dengan mati rasa.
   Ini satu-satunya rumah yang pernah diketahuinya. Di sinilah orangtuanya membawanya pulang ketika dia lahir. Dia dibesarkan di dalam dinding rumah deret Brooklyn. Dia bermain di jalanan di bawah bayangan pepohonan rimbun pada musim panas, dan membuat papan luncur dari tutup tong sampah pada musim dingin. Di rumah inilah keluarganya duduk berduka selama seminggu setelah ayahnya meninggal. Di sinilah dia mencium Clary untuk kali pertama.
   Tak pernah dia bayangkan datangnya hari ketika pintu rumah ini tertutup baginya. Kali terakhir dia melihat ibunya, sang Ibu memangilnya monster dan berdoa agar dia pergi. Dia membuat ibunya lupa bahwa dirinya vampir, menggunakan tudung pesona, tapi dia tidak tahu berapa lama tudung pesona itu akan bertahan. Ketika dia berdiri di dalam udara musim gugur yang dingin, sambil menatap kosong, dia tahu tudung pesona itu tidak cukup lama bertahan. Pintu itu digambari tanda—Bintang-bintang David dipulas dengan cat, bentuk tajam simbol Chai, kehidupan. Kotak teffilin yang berisi gulungan kitab diikat kepada kenop pintu dan pengetuk. Sebuah motif hamesh, Tangan Tuhan, menutupi lubang intip.
   Dengan mati rasa, dia menyentuh mezuzah logam yang dipasang di kanan ambang pintu. Dia melihat asap membubung dari tempat tangannya menyentuh benda suci itu, tapi dia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada sakit. Hanya hampa kosong yang mengerikan, menanjak perlahan menjadi amarah yang dingin.
   Ditendangnya bagian bawah pintu dan dia mendengar gemanya menembus rumah. “Ma!” teriaknya. “Ma, ini aku!”
     Tidak ada jawaban—hanya bunyi baut diputar pada pintu. Pendengarannya yang lebih peka telah mengenali bunyi langkah kaki ibunya, napas ibunya, tapi sang Ibu tidak mengatakan apa-apa. Dia bisa mencium bau aroma rasa takut dan panik yang tajam menembus kayu. “Ma!” suaranya terpatah. “Ma, ini konyol! Izinkan aku masuk! Ini aku, Simon!”
    Pintu bergetar keras, seperti baru ditendang oleh ibunya. “Pergi!” suara wanita itu parau, tak bisa dikenali karena ketakutan. “Dasar pembunuh!”
 “Aku tidak membunuh orang.” Simon menyandarkan kepalanya ke pintu. Dia tahu mungkin dia bisa menendang pintu ini hingga roboh, tapi apa gunanya? “Aku sudah bilang. Aku minum darah binatang.”
   Dia mendengar bisikan, pelan, beberapa kata dalam bahasa Ibrani. “Kau membunuh anakku,” kata sang Ibu. “Kau membunuhnya dan menggantikannya dengan monster.”
       “Aku anakmu—”
    “Kau memakai wajahnya dan bicara dengan suaranya, tapi kau bukan dia! Kau bukan Simon!” suaranya meninggi hampir menjerit. “Pergi dari rumahku sebelum aku membunuhmu, Monster!”
    “Becky,” kata Simon. Wajahnya basah; dia mengangkat dua tangan untuk menyentuh wajahnya, dan ketika ditarik tangannya ternoda. Air matanya berdarah. “Mama bilang apa kepada Becky?”
     “Menjauh dari kakakmu.”
    Simon mendengar gemerencing dari dalam rumah, seperti sesuatu terjatuh.
   “Ma,” kata Simon lagi, tapi kali ini suaranya tidak bisa mengeras. Suaranya keluar berupa bisik parau. Tangannya mulai berdenyut. “Aku perlu tahu—Becky ada di sana? Ma, buka pintunya. Tolonglah—”
     “Menjauh dari Becky!” Ibunya mundur dari pintu; Simon bisa mendengar itu. Kemudian, terdengar derit pintu dapur yang diayun dibuka, decit lantai linoleum ketika dipijaki. Bunyi laci dibuka. Mendadak Simon membayangkan ibunya mengambil salah satu pisau.
      Sebelum aku membunuhmu, Monster.
     Pikiran itu membuat Simon terhuyung mundur. Kalau sang Ibu menyerangnya, Tanda-nya akan bereaksi. Tanda itu akan menghancurkan ibunya seperti menghancurkan Lilith.
     Simon menurunkan tangannya dan mundur pelan-pelan, tersandung undakan dan menyeberangi trotoar, mencapai tujuannya pada batang salah satu pohon besar yang membayangi blok perumahan itu. Dia berdiri di tempat, memandangi pintu depan rumahnya, yang kelihatan buruk karena digambari simbol-simbol kebencian ibunya terhadapnya.
  Tidak, Simon mengingatkan diri sendiri. Ibunya tidak membencinya. Ibunya mengira dia sudah mati. Apa yang dibenci ibunya adalah sesuatu yang tidak ada. Aku bukanlah sesuatu yang dikatakannya.
   Dia tidak tahu berapa lama dia akan berdiri di situ, memandang kosong, kalau teleponnya tidak mulai berdering, menggetarkan saku jaketnya. Secara refleks dia meraih benda itu, menyadari pola dari bagian muka mezuzah—Bintang-bintang David yang bertautan—terbakar ke dalam telapak tangannya. Dia berganti tangan dan mengangkat telepon ke telinga.
       “Halo?”          
       “Simon?” Itu Clary. Ia terdengar kehabisan napas. “Kau di mana?”
     “Rumah,” Simon berkata, lalu berhenti. “Rumah ibuku,” ralatnya. Suaranya terdengar hampa dan jauh bagi telinganya sendiri. “Kenapa kau belum kembali di Institut? Semuanya baik-baik saja?”
   “Itu dia,” kata Clary. “Tepat setelah kau pergi, Maryse turun dari atap tempat Jace seharusnya menunggu. Tidak ada siapa-siapa di sana.”
 Simon bergerak. Tanpa cukup sadar bahwa dia melakukannya, seperti boneka mekanis, dia mulai menyusuri jalan, ke arah stasiun bawah tanah. “Apa maksudmu, tidak ada siapa-siapa di sana?”
   “Jace hilang,” kata Clary, dan Simon bisa mendengar ketegangan dalam suaranya. “Begitu pula Sebastian.”
    Simon berhenti di dalam bayangan pohon yang berdahan polos. “Tapi, dia sudah mati. Dia sudah mati, Clary—”
   “Kalau begitu, katakan kenapa dia tidak ada di sana, karena dia tidak ada,” kata Clary, akhirnya suaranya pecah. “Tidak ada apa-apa di atas sana selain banyak darah dan kaca pecah. Mereka berdua hilang, Simon. Jace hilang...”

| | Comments: (0)

Spoiler dikit Mark of Athena





Seneng banget akhirnya Mark of Athena uda terbit versi Indonesia nya
Thanx buat mizan uda terbitin secepatnya
bener-bener ga sabar buat baca ne
ngomong-ngomong mau spoiler bentar :D
barusan baca awalnya, kayaknya something happen to Annabeth
dan pertemuan Percy Annabeth dimulai dengan kissing ><
stelah itu Percy dibanting sama Annabeth x_x
Dibuku ini akan di ceritakan dengan 4 sudut pandang
yaitu, Annabeth, Percy, Leo dan Piper.
bagi yang penasaran cepet-cepet sekarang ke toko buku buat cari bukunya
hehehh
| | Comments: (0)

The Son of Neptune : Kembalinya Putra Poseidon










Finally, Percy is back

Bagi kalian yang sebelumnya sudah membaca The Lost Hero
inilah novel yang kita tunggu-tunggu, tak lain dan tak bukan adalah lanjutan The Lost Hero
Kalian tentu saja sudah tau siapa Jason, Piper dan Leo bukan?
di buku ini, tidak akan di bahas lagi tentang mereka
karena tokoh tercinta kita yaitu Percy Jackson, telah muncul dengan 2 tokoh baru yaitu, Hazel Putri Hades  dan Frank Putra Ares :D
terkejut bukan? hehehheh

secara singkat, dalam novel ini diceritakan akhirnya Percy sampai di Perkemahan Romawi dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Jason yaitu lupa ingatan. Dan tidak lama kemudian, Mars (atau yang biasa kita kenal Ares) datang mengunjungi Perkemahan Romawi untuk memberikan sebuah misi, yaitu Percy berserta Frank dan Hazel harus menuju Alaska untuk membebaskan Thanatos, penjaga Maut. Namun Alaska adalah tanah diluar kekuasaan dewa, bagaimana mereka bertiga mnghadapi raksasa dan membebaskan Thanatos tanpa perlindungan dan pertolongan para dewa. Apakah mereka berhasil?
Apakah Percy pada akhirnya bisa bertemu dengan Annabeth, pacarnya? Penasaran????? baca sendiri yaaa :D
| | Comments: (0)

The Lost Hero is amazing




hey Rick Riordan lovers ! uda pada baca novel terbaru Rick Riordan blom?
ini bener-bener the best novel karangan Rick Riordan dan juga lanjutan dari seri Percy Jackson.
munculnya tokoh baru di sertai dengan campuran mitologi Yunani dan Romawi membuat novel ini amat sangat pantas untuk di baca.
saat kalian membaca mungkin akan sedikit bingung karena walaupun lanjutan Percy
Jackson namun dia nya ga muncul.
itulah yang akan membuat kalian penasaran dan baca terus menerus.
ada 3 tokoh utama dan setiap tokoh memiliki karakter, kepribadian, kemampuan dan rahasia tersendiri
ada Jason, Piper dan Leo.
dan misi mereka kali ini tidak kalah menarik dengan misi Percy dulunya yang akan membuat kalian gregetan baca nya dan lagi kali ini Rick Riordan muncul dengan penyajian cerita yang baru dan makin menarik.